Dilihat : 186 kali
Dari Danau Purba hingga Paris van Java: Menelusuri Jejak Sejarah Kota Bandung
Bandung bukan sekadar kota dengan udara sejuk dan kuliner yang lezat. Di balik hiruk-pikuk Jalan Braga dan kemegahan Gedung Sate, tersimpan narasi panjang tentang perubahan geologis, ambisi kolonial, hingga perjuangan heroik mempertahankan kemerdekaan.
Berikut adalah fase-fase penting dalam sejarah terbentuknya Kota Bandung:
1. Era Prasejarah: Legenda Sangkuriang dan Danau Bandung Purba
Jauh sebelum pemukiman manusia modern berdiri, wilayah Bandung adalah sebuah danau raksasa yang dikenal sebagai Danau Bandung Purba.
Secara geologis, danau ini terbentuk akibat letusan dahsyat Gunung Sunda purba. Seiring waktu, air danau ini surut (salah satunya melalui celah Sanghyang Tikoro), meninggalkan dataran subur berbentuk cekungan yang dikelilingi pegunungan.
-
Fakta Menarik: Bentuk geografis cekungan ini sering dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, di mana Gunung Tangkuban Parahu dianggap sebagai perahu yang ditendang hingga terbalik.
2. Era Kolonial: Jalan Raya Pos dan "Tancapan Tongkat" Daendels
Sejarah kota Bandung secara administratif dimulai pada masa pemerintahan Hindia Belanda, khususnya di bawah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
-
Pembangunan Jalan Raya Pos (Grote Postweg): Pada tahun 1808, Daendels memerintahkan pembangunan jalan raya dari Anyer ke Panarukan. Jalan ini melintasi wilayah Bandung (sekarang menjadi Jalan Asia Afrika).
-
Pemindahan Ibu Kota: Karena wilayah ibu kota Kabupaten Bandung sebelumnya (di Krapyak/Dayeuhkolot) sering banjir dan kurang strategis untuk jalan raya tersebut, Daendels memerintahkan pemindahan pusat pemerintahan ke dekat Jalan Raya Pos.
-
Kutipan Legendaris: Saat menancapkan tongkat kayunya di dekat aliran Sungai Cikapundung (sekarang Titik Nol Kilometer Bandung), Daendels berkata:
"Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!" (Coba usahakan, bila aku datang kembali, di sini telah dibangun sebuah kota!)
Atas perintah tersebut, Bupati R.A. Wiranatakusumah II memimpin pemindahan ibu kota. Tanggal 25 September 1810 kemudian diresmikan sebagai Hari Jadi Kota Bandung.
3. Era Preanger Planters dan Lahirnya "Paris van Java"
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Bandung berkembang pesat berkat perkebunan teh dan kina. Para pengusaha perkebunan kaya raya yang disebut Preanger Planters menjadikan Bandung sebagai tempat peristirahatan dan pelesir.
Hal ini memicu pembangunan infrastruktur modern:
-
Jalur Kereta Api (1884): Menghubungkan Batavia dan Bandung, mempercepat arus barang dan manusia.
-
Arsitektur Art Deco: Gedung-gedung megah dibangun dengan gaya arsitektur Indische Empire dan Art Deco, seperti Hotel Savoy Homann, Grand Hotel Preanger, dan Villa Isola.
-
Pusat Mode: Jalan Braga menjadi pusat perbelanjaan elit. Karena suasana kota yang cantik, modis, dan sejuk inilah Bandung mendapat julukan "Parijs van Java" (Paris di Jawa).
4. Masa Revolusi: Bandung Lautan Api (1946)
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Bandung menjadi saksi salah satu peristiwa paling heroik dalam sejarah bangsa.
Pada bulan Maret 1946, tentara Sekutu dan NICA mengeluarkan ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) mengosongkan Bandung. Tidak rela kota mereka dimanfaatkan oleh musuh sebagai markas militer, para pejuang dan warga Bandung mengambil keputusan drastis.
Pada malam 24 Maret 1946, sekitar 200.000 penduduk membakar rumah mereka sendiri dan mengungsi ke wilayah selatan yang berbukit. Peristiwa bumi hangus ini dikenal sebagai Bandung Lautan Api. Lagu Halo-Halo Bandung diciptakan untuk mengenang momen emosional ini.
5. Menuju Panggung Dunia: Konferensi Asia Afrika (1955)
Setelah situasi kondusif, Bandung kembali dibangun. Pada tahun 1955, kota ini menjadi tuan rumah peristiwa bersejarah tingkat dunia: Konferensi Asia Afrika (KAA).
Bertempat di Gedung Merdeka, konferensi ini melahirkan Dasasila Bandung dan menjadi tonggak awal gerakan Non-Blok. Peristiwa ini menempatkan Bandung sebagai simbol perdamaian dan solidaritas bangsa-bangsa Asia dan Afrika.
6. Bandung Masa Kini
Saat ini, Bandung telah bertransformasi menjadi kota metropolitan yang padat namun tetap kreatif. Dikenal sebagai pusat pendidikan (dengan adanya ITB, Unpad, dll), pusat kuliner, dan destinasi wisata belanja (factory outlet dan distro).
Pada tahun 2015, UNESCO bahkan menobatkan Bandung sebagai salah satu jaringan Kota Kreatif Dunia dalam bidang Desain.
Kesimpulan
Dari sebuah danau purba yang mengering, menjadi tempat peristirahatan elit Eropa, hingga menjadi lautan api perjuangan, Bandung adalah kota yang dibentuk oleh sejarah yang dinamis. Setiap sudut jalan di Bandung—mulai dari Braga hingga Dago—memiliki ceritanya sendiri yang menunggu untuk ditelusuri.